≡ Menu

Zainab Binti Rasulullah ( Srikandi Islam )

  • Murah Giler barang-barang ni Jom Tengok dulu !!
  •  

    Zainab binti Muhammad bin Abdullah SAW


    Zainab telah wafat sejak 15 abad yang lalu, tetapi dia
    meninggalkan kenangan terbaik dan menjadi contoh terbaik dalam
    hal kesetiaan sebagai isteri, keikhlasan cinta dan ketulusan
    iman.

    Zainab dilahirkan apda tahun 30 setelah kelahiran Nabi
    SAW. Ketika mencapai usia perkawinan, bibinya, Halah binti
    Khuwailid, sadara Ummul Mu’minin Khadijah meminang untuk pute-
    ranya, Abil Ash bin Rabi’. Semua pihak setuju dan ridha. Zainab
    binti Muhammad SAW diboyong ke rumah Abil Ash bin Rabi’. [Ibnu
    Sa’ad menyebutkan bahwa Abil Ash mengawini Zainab sebelum Nabi
    SAW diangkat menjadi Nabi. Imam Adz-Dzahabi berkata : Ini adalah
    jauh. Kemudian dia berkata : Zainab masuk Islam dan hijrah 6
    tahun sebelum suaminya masuk Islam.

     


    Khadijah pergi menemui kedua suami isteri yang saling
    mencintai itu dan mendoakan agar keduanya mendapatkan berkah.
    Kemudian dia melepas kalungnya dan menggantungkannya ke leher
    Zainab sebagai hadiah bagi pengantin. Perkawinan itu berlangsung
    sebelum turun wahyu kepada ayahnya, Nabi SAW. Ketika cahaya Tuhan-
    nya menerangi bumi, Zainab pun beriman. Akan tetapi Abil Ash tidak
    mudah meninggalkan agamanya. Maka kedua suami isteri itu merasa
    bahwa kekuatan yang lebih kuat dari cinta mereka berusaha memisah-
    kan antara keduanya.

    Abil Ash tetap membangkang dan berkata :”Tidak akan terca-
    pai tujuan di antara kita, wahai Zainab, kecuali engkau tetap dalam
    agamamu dan aku tetap dalam agamaku.” Adapun Zainab, maka dia ber-
    kata :”Sabarlah, wahai suamiku, Engkau tidak halal bagiku selama
    engkau tetap memeluk agama itu. Maka serahkan aku kepada ayahku
    atau masuklah Islam bersamaku. Zainab tidak akan menjadi milikmu
    sejak hari ini, kecuali bila engkau beriman pada agama yang aku
    imani.”

    Pasangan suami isteri itu terdiam sebentar sambil merenung.
    Keduanya sadar ketika terdengar suara yang membisikkan kepada kedua-
    nya :”Jika agama memisahkan antara kedua jasad mereka, maka cinta
    mereka akan tetap ada hingga keduanya dipersatukan oleh sebuah agama.”

    Hari-hari berlalu dalam keadaan ini setelah Rasulullah SAW
    hijrah ke Madinah. Pasukan Quraisy berangkat menuju Badr untuk meme-
    rangi Rasul SAW dan di antara mereka terdapat Abil Ash bin Rabi’,
    bukan untuk menyatakan ke-Islamannya, tetapi untuk memerangi Rasul
    SAW. Situasi menjadi kritis ketika Abil Ash jatuh menjadi tawanan
    di tangan kaum Muslimin di bawah pimpinan Rasulullah SAW di Madinah.
    Kemudian kaum Quraisy mengutus orang untuk menebus tawanan-tawanannya.
    Zainab pun mengirimkan harta dan sebuah kalung untuk menebus tawanan-
    nya, Abil Ash bin Rabi’. Ketika Rasulullah SAW melihat kalung itu,
    beliau merasa iba hatinya dan bersabda :”Jika kalian tidak keberatan
    melepaskan tawanan dan mengembalikan harta miliknya, maka lakukanlah.”
    Mereka menjawab :”Baiklah, wahai Rasulullah.” Kemudian mereka melepas-
    kannya dan mengembalikan harta milik Zainab. Di sini Rasulullah SAW
    mendapat janji dari Abil Ash untuk membebaskan Zainab dan mengembali-
    kannya kepada beliau di Madinah.

    Abil Ash kembali ke Mekkah dan di dalam jiwanya terdapat
    gambaran yang lebih cemerlang dari isteri yang berbakti dan mulia ini.
    Maka dia kembali bukan untuk berterima kasih atas kebaikan Zainab ke-
    padanya, akan tetapi untuk berkata keapdanya :”Kembalilah kepada ayah-
    mu, wahai Zainab.” Dia telah memenuhi janjinya kepada Rasulullah SAW
    untuk membiarkan Zainab pergi kepada Nabi SAW. Abil Ash tidak kuasa
    menahan tangisnya dan tidak dapat mengantarkannya ke tepi dusun di
    luar Mekkah, di mana telah menunggu Zaid bin Haritsah dan seorang laki-
    laki Anshor.

    Bagaimana dia mampu melepaskan orang yang dicintainya, sedang
    dia mengetahui bahwa, itu merupakan perpisahan terakhir selama kekua-
    saan agama ini berdiri di antara kedua hati dan masing-masing berpe-
    gang pada agamanya. Abil Ash berkata kepada saudaranya, Kinanah bin
    Rabi’ :”Hai, Saudaraku, tentulah engkau mengetahui kedudukannya dalam
    jiwaku. Aku tidak menginginkan seorang wanita Quraisy di sampingnya
    dan engkau tentu tahu bahwa aku tidak sanggup meninggalkannya. Maka
    temanilah dia menuju tepi dusun, di mana telah menungggu dua utusan
    Muhammad. Perlakukanlah dia dengan lemah lembut dalam perjalanan dan
    perhatikanlah dia sebagaimana engkau memperhatikan wanita-wanita ter-
    pelihara. Lindungilah dia dengan panahmu hingga anak panah yang peng-
    habisan.”

    Di saat Zainab sedang bersiap-siap untuk menyusul ayahnya,
    datanglah Hind binti Utbah, menemuinya, dan dia berkata :”Wahai, puteri
    Muhammad, aku mendengar bahwa engkau akan menyusul ayahmu !” Zainab
    menjawab :”Aku tidak ingin melakukannya.” Hind berkata :”Wahai puteri
    pamanku, jangan engkau lakukan. Jika engkau mempunyai keperluan akan
    suatu barang yang menjadi bekal dalam perjalananmu atau harta yang
    hendak engkau sampaikan kepada ayahmu, maka aku akan memenuhi keper-
    luanmu. Maka janganlah engkau segan kepadaku, karena sesuatu yang
    masuk di antara orang-orang lelaki tidaklah masuk di antara orang-
    orang wanita.” Zainab berkata : “Demi Allah, aku tidak melihatnya
    mengatakan hal itu, kecuali untuk melakukannya, tetapi aku takut
    kepadanya. Maka aku menyangkal bahwa aku akan pergi dan aku pun ber-
    siap-siap.”

    Setelah menyelesaikan persiapannya, iparnya, Kinanah bin Rabi’
    menyerahkan kepada Zainab seekor unta, lalu dinaikinya. Kinanah meng-
    ambil busur dan anak panahnya. Kemudian dia keluar membawa Zainab di
    waktu siang dan Zainab duduk di dalam pelangkinnya, sementara Kinanah
    menuntun untanya. Akan tetapi, apakah Quraisy membiarkannya keluar
    setelah mereka mengalami kekalahan di Badr. Bagaimana dia boleh keluar sementara orang-orang melihat dan mendengarnya ?

    Tidak…sekali lagi tidak ! Banyak orang laki-laki Quraisy
    telah membicarakan hal itu. Maka keluarlah mereka untuk mencarinya
    hingga mereka berhasil menyusul di Dzi Thuwa. Yang pertama kali me-
    nemukannya adalah Habbar bin Aswad bin Muththalib dan Nafi’ bin Abdul
    Qais. Habbar menakutinya dengan tombak. Di saat itu Zainab berada di
    dalam pelangkinnya dan dia sedang dalam keadaan hamil. Ketika pulang,
    dia mengalami keguguran kandungannya.

    Iparnya marah dan berkata kepada para penyerang :”Demi Allah,
    tidak seorang pun yang mendekat kepadaku, melainkan aku akan memanah-
    nya.” Maka orang-orang bubar meninggalkannya. Abu Sufyan bersama rom-
    bongan Quraisy datang kepadanya dan berkata :”Hai, orang laki-laki,
    tahanlah panahmu hingga aku berbicara kepadamu.” Maka Kinanah menahan
    panahnya. Abu Sufyan datang menghampirinya dan berkata :”Tindakanmu
    tidak tepat. Engkau keluar membawa wanita secara terang-terangan di
    hadapan orang banyak. Sesungguhnya hal itu menunjukkan kehinaan yang
    menimpa kita akibat musibah dan bencana yang telah kita alami sebelum-
    nya. Sesungguhnya hal itu menunjukkan kelemahan kita. Demi umurku,
    kami tidak perlu mencegahnya untuk pergi kepada ayahnya. Kami tidak
    ingin membalas dendam, tetapi kembalikan wanita itu.”

    Tatkala suara sudah reda, Kinanah membawa Zainab pada waktu
    malam, lalu menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan temannya.
    Keduanya pergi mengantarkan Zainab kepada Rasulullah SAW. Suami isteri
    jadi berpisah. Tidak ada jalan untuk bertemu. Abil Ash tinggal di Makkah
    menyendiri dengan pikiran kacau dan hati terluka. Zainab pun tinggal di
    Madinah dengan badan yang sakit dan hati yang lemah. Kalau saja bukan
    karena iman dan takwa yang menguatkan tekadnya, tentu dia lekas mati dan
    tidak dapat bertemu.

    Tahun demi tahun berlalu, Abil Ash keluar bersama kafilah
    dagangnya menuju Syam. Dalam perjalanan pulang dia berjumpa pasukan
    Rasulullah SAW yang berhasil merampas hartanya, akan tetapi dia bisa
    lolos. Dia telah kehilangan hartanya dan harta titipan orang banyak.
    Abil Ash tidak dapat mengembalikan barang-barang titipan itu kepada
    para pemiliknya. Maka apa yang harus dilakukannya ?

    Dia teringat Zainab yang memberinya imbalan berupa cinta dan
    kesetiaan. Maka Abil Ash memasuki Madinah pada waktu malam dan mohon
    kepada Zainab agar melindungi dan membantunya untuk mengembalikan
    hartanya. Maka Zainab pun melindunginya. Orang-orang berlari ke masjid
    Rasulullah SAW, bertakbir bersama kaum Muslimin. Tiba-tiba terdengar
    suara teriakan di belakang dinding :”Hai, orang-orang, aku telah me-
    lindungi Abil Ash bin Rabi’. Dia dalam lindungan dan jaminanku.” Ter-
    nyata, Zainablah yang berseru itu.

    Rasulullah SAW menyelesaikan shalatnya, lalu beliau menemui
    orang banyak dan bersabda :”Wahai, orang-orang, apakah kalian mende-
    ngar apa yang aku dengar ? Sesungguhnya serendah-rendah orang Muslim
    adalah dapat memberi perlindungan.” Kemudian beliau masuk menemui
    puterinya dan berbicara kepadanya, Nabi SAW berpesan :”Wahai, puteri-
    ku, muliakanlah tempatnya dan jangan sampai dia lolos kepadamu,
    karena engkau tidak halal baginya selama dia masih musyrik.” Nabi SAW
    terkesan melihat kesetiaan puterinya kepada suaminya yang ditinggalkan
    dan dia putuskan hubungan syahwat dengannya karena perintah Allah SWT.

    Di samping itu, Zainab pun masih tetap memberinya kebaktian,
    kesetiaan dan pertolongan : yaitu kebaktian sebagai wanita muslim,
    kesetiaan sebagai teman dan pertolongan sebagai manusia. Abil Ash
    mendapatkan dari Nabi SAW apa yang didengar dan diketahuinya, sehingga
    dia menyembunyikan dalam hatinya harapan kepada Allah. Kemudian, Nabi

    SAW mengutus orang kepada pasukan yang merampas harta Abil Ash. Beliau
    berkata :”Sesungguhnya kalian telah mengetahui kedudukan orang ini
    terhadap kami. Kalian telah merampas hartanya. Jika kalian berbuat baik
    kepadanya dan mengembalikan hartanya, maka kami menyukai hal itu. Jika
    kalian menolak, maka itu adalah fai’ dari Allah yang diberikan-Nya
    kepada kalian dan kalian lebih berhak atasnya.”

    Mereka berkata :”Kami akan mengembalikannya kepada Abil Ash.”
    Beberapa orang di antara mereka berkata :”Hai, Abil Ash, maukah engkau
    masuk Islam dan mengambil harta benda ini, karena semua ini milik
    orang-orang musyrik ?” Abil Ash menjawab :”Sungguh buruk awal Islamku,
    jika aku mengkhianati amanatku.”

    Maka mereka mengembalikan harta itu kepadanya demi kemuliaan
    Rasulullah SAW dan sebagai penghormatan kepada Zainab. Laki-laki itu
    pun kembali ke Mekkah dengan membawa hartanya dan harta orang banyak.
    Jiwanya dipenuhi berbagai makna dan di antara kedua matanya terlihat
    gambaran yang tidak meninggalkannya.

    Setelah mengembalikan harta kepada pemiliknya masing-masing,
    Abil Ash berdiri dan berkata :”Wahai, kaum Quraisy, apakah masih ada
    harta seseorang di antara kalian padaku ?” Mereka menjawab :”Tidak.
    Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Kami telah mendapati kamu
    seorang yang jujur dan mulia.” Abil Ash berkata :”Aku bersaksi bahwa
    tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
    Demi Allah, tiada yang menghalangi aku masuk Islam di hadapannya, ke-
    cuali karena aku khawatir mereka menyangka aku ingin makan harta kalian.
    Setelah Allah menyampaikannya kepada kalian dan aku selesai membagikan-
    nya, maka aku masuk Islam.”

    Asy-Sya’bi berkata :”Zainab masuk Islam dan hijrah, kemudian
    Abil Ash masuk Islam sesudah itu, dan Islam tidak memisahkan antara
    keduanya.” [Adz-Dzahabi, “Siyar A’laamin Nubala’. Demikian pula kata
    Qatadah : Dia berkata :”Kemudian diturunkan surah Baro’ah sesudah itu.
    Maka, jika ada seorang wanita masuk Islam sebelum suaminya, dia hanya
    boleh mengawininya dengan nikah baru.”]

    Abil Ash keluar dari Mekkah, hijrah menuju Madinah dengan men-
    dapat petunjuk iman dan keyakinan. Suami isteri yang saling mencintai
    bertemu untuk kedua kalinya setelah lama berpisah. Akan tetapi isteri
    yang setia itu telah menunaikan kewajiban dan menyelesaikan urusan
    dunianya ketika menyadarkan laki-laki yang dicintainya serta memenuhi
    hak suaminya sesuai dengan kadar cintanya kepada suami. Tidak lama
    setelah pertemuan itu, Zainab meninggal dunia.

    Zainab meninggal dunia pada tahun 8 Hijriah dan Rasulullah SAW
    sangat sedih atas kepergiannya. Zainab meninggal dunia setelah mening-
    galkan kenangan terbaik. Dia telah menjadi contoh terbaik dalam hal
    kesetiaan isteri, keikhlasan cinta dan kebenaran iman. Tidaklah meng-
    herankan apabila suaminya berkata dalam suatu perjalanannya ke Syam :
    “Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap
    suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.”

    Comments

    comments

    { 1 comment… add one }
    • ardiana jakarta 06/10/2012, 7:57 am

      saya menyarangkan kesemua teman-teman yang belum punya BB,IPHON,IPAD YANG INGIN HARGA MENANTANG BARANG BARU,MASI TERSEGEL, BERGERANSI..

    Cancel reply

    Leave a Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.