≡ Menu

Saudah binti Zam’ah ( Srikandi Islam )

  • Murah Giler barang-barang ni Jom Tengok dulu !!
  •  

    Ummul Mu’minin Saudah binti Zam’ah


    Dia adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi SAW sesudah
    Khadijah r.a. dan dia sendiri yang bersama Nabi SAW selama kurang
    lebih 3 tahun sehingga beliau berumah tangga dengan ‘Aisyah r.a.

    Adalah para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- memperhatikan
    kesendirian Nabi SAW sesudah Khadijah r.a. wafat dan berharap
    kiranya beliau menikah, barangkali dalam pernikahan itu ada yang
    menghibur kesendiriannya. Akan tetapi, siapa yang berani bicara
    kepada beliau soal itu ?

     


    Khaulah binti Hakim maju untuk melakukan tugas itu. Maka
    dia berbicara kepada Rasul SAW dan menawarkan ‘Aisyah binti Ash-
    Shiddiq r.a. namun dia masih kecil. Maka biarlah dia dipinang,
    kemudian ditunggu hingga dewasa. Akan tetapi, siapakah yang akan
    memperhatikan urusan-urusan Nabi SAW dan melayani putri-putri
    serta memenuhi rumah beliau ? Pernikahan dengan ‘Aisyah tidak akan
    berlangsung sebelum 2 atau 3 tahun lagi. Siapakah gerangan wanita
    yang memimpin urusan-urusan Nabi SAW dan memelihara putri-putrinya ?
    Dia adalah Saudah binti Zam’ah dari bani Ady bin Najjar.

    Rasul SAW mengizinkan Khaulah meminang keduanya. Pertama
    Khaulah datang ke rumah Abu Bakar r.a., lalu ke rumah Zam’ah. Dia
    menemui puterinya, Saudah, dan berkata : “Kebaikan dan berkah apa
    yang dimasukkan Allah kepadamu, wahai Saudah ?” Saudah bertanya
    karena tidak tahu maksudnya, “Apakah itu, wahai Khaulah ?” Khaulah
    menjawab :”Rasulullah SAW mengutus aku untuk meminangmu.” Saudah
    berkata dengan suara gemetar, “Aku berharap engkau masuk kepada
    ayahku dan menceritakan hal itu kepadanya.” Maka terjadi kesepakatan
    dan berlangsunglah pernikahan.

    Saudah mengalami situasi yang menyebabkan Rasulullah SAW
    mengulurkan tangannya yang penyayang untuk menolong masa tua dan
    meringankan kekerasan hidup yang dirasakan oleh Saudah. Saudah

    telah hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agama bersama suami,
    putra pamannya. Kemudian suaminya meninggal sebagai muhajir dan
    Saudah tinggal sendirian. Saudah menjadi janda yang hidup di tanah
    perantauan sebelum tiba di Ummul Qura. Rasul SAW telah terkesan
    oleh wanita muhajir yang mu’min dan janda itu. Ternyata, Saudah
    setuju untuk menikah dengan Rasulullah SAW.

    Saudah menjadi ibu rumah tangga di rumah suaminya, Rasul
    SAW sampai ‘Aisyah r.a. datang ke rumah kenabian. Dia mengetahui
    kedudukan ‘Aisyah terhadap hati Nabi SAW. Maka dia berikan harinya
    kepada ‘Aisyah dan melapangkan tempat pertama baginya di dalam
    rumah. Saudah berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan keridhoan
    pengantin yang masih muda dan menyenangkannya (‘Aisyah). Setelah
    menginjak masa tua yang dingin, Saudah sangat berharap untuk tetap
    menjadi isteri Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat serta tidak
    diharamkan dari kemuliaan yang besar ini, sekalipun dia berikan
    harinya kepada ‘Aisyah setelah merasa dia tidak menginginkan apa
    yang biasa diinginkan kaum wanita.

    Saudah hidup bekerja keras dalam mengurusi rumah kenabian,
    sementara hatinya sarat dengan keridhoan dan iman hingga Nabi SAW
    pergi menghadap Tuhannya. Saudah wafat dalam masa khilafah Umar
    ibnul Khaththab r.a. ‘Aisyah r.a. sering menyebut kebaikan dan
    memujinya atas kebaikan itu. Dia berkata, “Tidak seorang pun yang
    lebih aku sukai dalam dirinya daripada Saudah binti Zam’ah, hanya
    saja dia agak keras wataknya.” [Al-Istii’aab 4/1867]

    Ketika Saudah wafat, Ibnu Abbas sujud. Ditanyakan kepadanya
    mengenai hal itu, maka dia menjawab, “Rasulullah SAW bersabda :
    “Apabila kamu melihat suatu tanda, maka sujudlah.” Dan tanda ketika
    wafatnya isteri-isteri Nabi SAW itulah yang menyebabkan dia bersujud.
    [Thabaqat Ibnu Sa’ad, Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar dan Usudul Ghaabah
    oleh Ibnu Atsiir]

    Saudah meriwayatkan lima hadits dari Rasulullah SAW. Di
    antaranya satu hadits diriwayatkan dalam Sahihain [Ibnul Jauzil, Al-Mujtanaa]. Dalam satu riwayat, bahwa Bukhari meriwayatkan dari Saudah
    dua hadits. [Al-Maqdisi, Al-Kamaal bii Ma’rifatir Rijaal]

    Semoga Allah SWT merahmatinya. Saudah menyukai sedekah dan
    berbudi luhur. Dari ‘Aisyah r.a. dia berkata : “Bahwa sebagian isteri-
    isteri Nabi SAW berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah di antaraa kami
    yang paling cepat menyusulmu ?” Nabi SAW menjawab, “Yang terpanjang
    tangannya di antara kalian.” Kemudian mereka mengambil tongkat untuk
    mengukur tangan mereka. Ternyata, Saudah adalah orang yang terpanjang
    tangannya di antara mereka. Kemudian kami mengetahui, bahwa maksud
    dari panjang tanganya adalah suka sedekah. Saudah memang suka memberi
    sedekah dan dia yang paling cepat menyusulnya di antara kami.” (H.R.
    Syaikhain dan Nasai). Dalam suatu riwayat lain oleh Muslim :”Yang
    paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang terpanjang
    tangannya di antara kalian.” ‘Aisyah berkata, “Mereka saling mengukur
    siapa di antara mereka yang terpanjang tangannya. Ternyata yang ter-
    panjang tangannya di antara kami adalah Zainab, karena dia melakukan
    pekerjaan tangan dan mengeluarkan sedekah.”

    Comments

    comments

    { 0 comments… add one }

    Leave a Comment

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.